Training Stress Score (TSS): Panduan Lengkap bagi Pelari
Jawaban Singkat
Training Stress Score (TSS) adalah metrik yang menguantifikasi intensitas dan durasi latihan menjadi satu angka yang mewakili beban pelatihan. Untuk lari (rTSS), perhitungannya adalah: Durasi (jam) × Faktor Intensitas² × 100, di mana Faktor Intensitas = Pace Latihan / Kecepatan Lari Kritis. Diterapkan sebagai NGS / CRS.
Fakta Utama:
- Latihan 1 jam pada pace ambang batas (threshold) = 100 TSS
- Melacak kebugaran kumulatif (CTL), kelelahan (ATL), dan performa/form (TSB)
- Target mingguan: 300-500 TSS (rekreasi) hingga 800-1200+ TSS (elit)
- Membantu mencegah pelatihan berlebih sambil memastikan stimulus pelatihan yang memadai
Training Stress Score (TSS) menguantifikasi beban pelatihan dari latihan individu dan stres pelatihan kumulatif dari waktu ke waktu. Awalnya dikembangkan untuk bersepeda, TSS telah diadaptasi untuk lari (rTSS) untuk membantu atlet menyeimbangkan intensitas pelatihan, mengelola kelelahan, dan mengoptimalkan performa. Memahami TSS memungkinkan pengambilan keputusan pelatihan berbasis data yang mencegah pelatihan berlebih sambil memastikan stimulus yang memadai untuk adaptasi.
Panduan komprehensif ini menjelaskan apa itu TSS, bagaimana perhitungannya untuk lari, cara menggunakan metrik TSS seperti CTL (kebugaran), ATL (kelelahan), dan TSB (performa/form) untuk mengelola pelatihan Anda, serta cara mengintegrasikan TSS ke dalam berbagai fase pelatihan. Baik Anda berlatih untuk 5K atau maraton, TSS memberikan umpan balik objektif yang tidak dapat disaingi oleh penilaian subjektif.
Apa itu Training Stress Score (TSS)?
Training Stress Score adalah angka tunggal yang mewakili beban pelatihan keseluruhan dari suatu latihan, yang memperhitungkan durasi dan intensitas. Berbeda dengan sekadar melacak mil atau waktu, TSS memberikan bobot pada intensitas secara tepat: lari tempo 60 menit menghasilkan stres pelatihan yang lebih besar daripada lari santai 60 menit.
Konsep Utama di Balik TSS
- Kuantifikasi Objektif: TSS menyediakan metrik standar untuk membandingkan latihan yang berbeda—interval vs tempo vs lari jarak jauh.
- Pembobotan Intensitas: Latihan intensitas tinggi menghasilkan stres yang lebih besar secara tidak proporsional dibandingkan jika hanya durasi yang diperhitungkan.
- Pelacakan Kumulatif: TSS dapat dijumlahkan setiap hari, minggu, dan selama siklus pelatihan untuk melacak beban pelatihan total.
- Kalibrasi Individu: TSS dipersonalisasi sesuai ambang batas Anda, menjadikannya spesifik untuk tingkat kebugaran Anda.
- Manajemen Kelelahan: Metrik turunan TSS (CTL, ATL, TSB) memprediksi kebugaran, kelelahan, dan beban pelatihan yang optimal.
Nilai Patokan TSS
| Rentang TSS | Jenis Latihan | Waktu Pemulihan | Dampak Pelatihan |
|---|---|---|---|
| <150 | Lari santai, lari pemulihan, latihan singkat | <24 jam | Rendah - stimulus adaptasi minimal |
| 150-300 | Lari jarak jauh moderat, latihan tempo, latihan ambang batas | 24-48 jam | Sedang - stimulus pelatihan yang solid |
| 300-450 | Lari jarak jauh, latihan berat, upaya balapan | 48-72 jam | Tinggi - adaptasi yang signifikan |
| >450 | Lari sangat jauh, balapan maraton, jarak ultra | 3-7+ hari | Sangat tinggi - membutuhkan pemulihan diperpanjang |
TSS terintegrasi secara mulus dengan metrik performa lainnya yang tercakup dalam panduan metrik performa lari dan sumber daya manajemen beban pelatihan kami.
📱 Run Analytics Mengotomatiskan Semua Pelacakan TSS
Meskipun panduan ini menjelaskan metodologi TSS, Run Analytics secara otomatis menghitung rTSS untuk setiap latihan dan melacak akumulasi CTL, ATL, dan TSB dari waktu ke waktu—tanpa perlu perhitungan manual atau spreadsheet.
Pelacakan otomatis meliputi:
- Perhitungan rTSS waktu nyata untuk setiap latihan
- Bagan CTL (kebugaran), ATL (kelelahan), dan TSB (performa/form)
- Total TSS mingguan dan analisis distribusi
- Rekomendasi beban pelatihan berdasarkan performa/form saat ini
- Pemrosesan data 100% lokal—privasi lengkap
rTSS: TSS untuk Lari
Meskipun TSS awalnya dikembangkan menggunakan data daya bersepeda, rTSS (running Training Stress Score) mengadaptasi konsep tersebut untuk lari menggunakan pace dan bukan daya. Struktur rumus fundamentalnya tetap sama, tetapi rTSS menggunakan Kecepatan Lari Kritis (CRS) atau pace ambang batas Anda sebagai garis dasar.
Mengapa CRS untuk rTSS?
CRS mewakili kecepatan transisi aerobik-anaerobik Anda yang berkelanjutan—sebenarnya adalah "pace ambang batas fungsional" Anda. Menggunakan CRS sebagai titik referensi memastikan:
- Perhitungan intensitas yang dipersonalisasi khusus untuk fisiologi Anda
- Perbandingan yang akurat di berbagai tingkat kemampuan pelari
- Pembobotan intensitas yang tepat relatif terhadap kemampuan aktual Anda
- Konsistensi dengan metrik yang divalidasi secara ilmiah
Penanda ambang batas alternatif meliputi:
- Pace tes 30 menit: Pace ambang batas fungsional dari uji waktu (time trial) 30 menit
- Pace balapan 10K + 10-15 detik/mil: Estimasi ambang batas dari 10K baru-baru ini
- Pace ambang batas laktat: Dari pengujian laktat laboratorium atau lapangan
Pelajari cara menguji CRS Anda dalam panduan pengujian performa kami.
rTSS vs Heart Rate TSS (hrTSS)
| Metrik | Berdasarkan pada | Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|---|---|
| rTSS (pace) | Pace lari vs CRS | Objektif, tidak dipengaruhi oleh drift jantung, akurat untuk interval | Membutuhkan data pace yang akurat (GPS/lintasan), dipengaruhi oleh medan/angin |
| hrTSS | Denyut jantung vs LTHR | Ukuran beban internal, berfungsi di perbukitan/jalur trail, memperhitungkan kelelahan | Drift jantung menaikkan skor, waktu jeda dalam interval, bervariasi sesuai kondisi |
Bagi kebanyakan pelari, rTSS berbasis pace memberikan data yang lebih konsisten dan dapat ditindaklanjuti, terutama saat berlatih di lintasan atau rute yang terukur. TSS berbasis denyut jantung berfungsi lebih baik untuk lari trail di mana pace tidak dapat diandalkan.
Cara Menghitung rTSS
Rumus rTSS memperhitungkan durasi latihan dan intensitas relatif terhadap ambang batas Anda:
rTSS = (Durasi dalam detik × IF² × 100) / 3600 Di mana: IF = Faktor Intensitas (pace latihan / pace CRS) Durasi = Total waktu latihan dalam detik
Contoh Perhitungan Langkah-demi-Langkah
Latihan: Lari tempo 60 menit pada pace 4:00/km
CRS Anda: 4:20/km (270 m/mnt atau 4,5 m/s)
Langkah 1: Konversi pace ke m/s
- Pace latihan: 4:00/km = 4,17 m/s
- Pace CRS: 4:20/km = 3,85 m/s
Langkah 2: Hitung Faktor Intensitas (IF)
IF = Pace latihan / Pace CRS IF = 4,17 / 3,85 = 1,08
Langkah 3: Hitung rTSS
Durasi = 60 menit = 3.600 detik rTSS = (3.600 × 1,08² × 100) / 3.600 rTSS = (3.600 × 1,166 × 100) / 3.600 rTSS = 116,6 ≈ 117
Lari tempo 60 menit pada 108% CRS ini menghasilkan 117 rTSS—stres yang sedikit lebih besar daripada satu jam pada ambang batas (yang setara dengan 100 TSS secara definisi).
Kalkulator rTSS Cepat
Gunakan kalkulator rTSS gratis kami untuk menghitung TSS dengan cepat untuk latihan Anda tanpa perhitungan manual. Cukup masukkan CRS, pace latihan, dan durasi Anda.
rTSS untuk Latihan Campuran
Untuk latihan dengan beberapa segmen pada intensitas yang berbeda (interval, progresif), hitung TSS untuk setiap segmen dan jumlahkan:
Contoh: Latihan Interval
- 15 mnt pemanasan (60% CRS): IF = 0,60, TSS = 9
- 6 × 4 mnt pada 110% CRS (total 24 mnt): IF = 1,10, TSS = 48
- Pemulihan di antara interval (12 mnt pada 50% CRS): IF = 0,50, TSS = 2
- 10 mnt pendinginan (60% CRS): IF = 0,60, TSS = 6
Total rTSS Latihan: 9 + 48 + 2 + 6 = 65 rTSS
Perhatikan bahwa sebagian besar stres pelatihan berasal dari segmen interval meskipun durasinya kurang dari separuh durasi latihan—ini menunjukkan pembobotan intensitas TSS yang tepat.
Memahami Faktor Intensitas (IF)
Faktor Intensitas adalah rasio pace latihan Anda terhadap pace ambang batas Anda. Ini mewakili seberapa keras Anda bekerja relatif terhadap upaya aerobik berkelanjutan maksimum Anda.
Zona Faktor Intensitas
| Rentang IF | % dari CRS | Zona Pelatihan | Deskripsi Upaya | TSS per Jam |
|---|---|---|---|---|
| 0,50-0,70 | 50-70% | Zona 1 (Pemulihan) | Sangat mudah, percakapan penuh | 25-49 |
| 0,70-0,85 | 70-85% | Zona 2 (Aerobik) | Mudah, percakapan nyaman | 49-72 |
| 0,85-0,95 | 85-95% | Zona 3 (Tempo) | Moderat, hanya frasa pendek | 72-90 |
| 0,95-1,05 | 95-105% | Zona 4 (Ambang Batas) | Berat, hanya beberapa kata | 90-110 |
| 1,05-1,20 | 105-120% | Zona 5 (VO2max) | Sangat berat, dilarang bicara | 110-144 |
rTSS per jam = IF² × 100. Misalnya, Zona 2 pada IF 0,75 menghasilkan 56 rTSS per jam.
Hubungan kuadrat (IF²) mencerminkan peningkatan eksponensial dalam stres fisiologis saat intensitas meningkat:
- IF 0,80 (lari santai): Menghasilkan 64 rTSS per jam
- IF 0,90 (tempo): Menghasilkan 81 rTSS per hour (+27%)
- IF 1,00 (ambang batas): Menghasilkan 100 rTSS per jam (+23%)
- IF 1,10 (VO2max): Menghasilkan 121 rTSS per jam (+21%)
Peningkatan 10% dalam pace (dari 0,80 ke 0,90 IF) meningkatkan stres pelatihan sebesar 27%, bukan hanya 10%. Ini secara akurat mencerminkan bahwa berlari sedikit lebih cepat membutuhkan energi yang jauh lebih banyak dan menciptakan kelelahan yang lebih besar.
Pelajari lebih lanjut tentang mengelola berbagai tingkat intensitas dalam panduan zona pelatihan kami.
Metrik CTL, ATL, dan TSB
TSS untuk latihan individu memang berguna, tetapi kekuatan sebenarnya berasal dari pelacakan metrik kumulatif dari waktu ke waktu. Tiga metrik turunan digunakan untuk mengelola beban pelatihan jangka panjang:
Chronic Training Load (CTL): Kebugaran
CTL adalah beban pelatihan jangka panjang Anda, yang dihitung sebagai rata-rata bergerak tertimbang eksponensial selama 42 hari dari TSS harian. CTL mewakili kebugaran Anda—kapasitas Anda untuk menyerap stres pelatihan.
CTL(hari ini) = CTL(kemarin) + (TSS(hari ini) - CTL(kemarin)) / 42
- CTL yang Lebih Tinggi: Kebugaran dan kapasitas kerja yang lebih besar
- CTL yang Meningkat: Membangun kebugaran (tetapi juga mengumpulkan kelelahan)
- CTL yang Stabil: Mempertahankan tingkat kebugaran
- CTL yang Menurun: Penurunan kebugaran (taper yang disengaja atau tidak terencana)
Acute Training Load (ATL): Kelelahan
ATL adalah beban pelatihan jangka pendek Anda, yang dihitung sebagai rata-rata bergerak tertimbang eksponensial selama 7 hari dari TSS harian. ATL mewakili kelelahan Anda—dampak dari pelatihan baru-baru ini.
ATL(hari ini) = ATL(kemarin) + (TSS(hari ini) - ATL(kemarin)) / 7
- ATL yang Lebih Tinggi: Lebih banyak kelelahan yang terakumulasi
- ATL > CTL: Kelelahan yang signifikan relatif terhadap kebugaran (risiko overreaching atau pelatihan berlebih)
- ATL << CTL: Pulih dengan baik, siap untuk pelatihan berat
Training Stress Balance (TSB): Performa/Form
TSB adalah perbedaan antara kebugaran dan kelelahan. Ini memprediksi performa/form Anda—kesiapan untuk tampil atau berlatih keras.
TSB = CTL - ATL
- TSB = -30 hingga -10: Kelelahan tinggi, fase overload yang produktif
- TSB = -10 hingga +5: Rentang pelatihan optimal, keseimbangan yang baik
- TSB = +5 hingga +15: Segar, sudah taper, siap balapan
- TSB = +15 hingga +25: Sangat segar, performa puncak untuk balapan utama
- TSB > +25: Detraining (kehilangan kebugaran karena terlalu santai)
Visual Hubungan CTL, ATL, TSB
| Minggu | Rata-rata TSS Harian | TSS Mingguan | CTL | ATL | TSB | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | rata-rata 60 | 420 | 45 | 52 | -7 | Membangun kebugaran |
| 2 | rata-rata 65 | 455 | 52 | 58 | -6 | Minggu adaptasi |
| 3 | rata-rata 70 | 490 | 59 | 65 | -6 | Progresi berlanjut |
| 4 | rata-rata 45 | 315 | 56 | 42 | +14 | Minggu pemulihan |
| 5 | rata-rata 75 | 525 | 63 | 68 | -5 | Blok pelatihan berat |
| 6 | rata-rata 80 | 560 | 70 | 76 | -6 | Minggu volume puncak |
| 7 | rata-rata 50 | 350 | 68 | 48 | +20 | Minggu taper |
| 8 | rata-rata 30 | 210 | 62 | 28 | +34 | Minggu balapan - performa puncak |
Contoh ini menunjukkan pola CTL/ATL/TSB yang khas melalui blok pelatihan dan taper. Perhatikan bagaimana TSB menjadi sangat negatif selama minggu pelatihan berat (akumulasi kelelahan) kemudian berayun positif selama taper (kelelahan menghilang lebih cepat daripada kebugaran).
Panduan TSS berdasarkan Fase Pelatihan
Target TSS yang tepat bervariasi berdasarkan fase pelatihan, tingkat pengalaman, dan tujuan. Panduan ini membantu menyusun progresi beban pelatihan sepanjang musim Anda.
TSS Mingguan berdasarkan Tingkat Pengalaman
| Tingkat Pelari | Pembangunan Dasar | Fase Pembangunan | Fase Puncak | Minggu Taper |
|---|---|---|---|---|
| Pemula (0-2 tahun) | 150-300 | 250-400 | 300-450 | 100-150 |
| Menengah (2-5 tahun) | 300-500 | 400-600 | 500-750 | 150-250 |
| Lanjut (5-10 tahun) | 500-750 | 600-900 | 750-1,100 | 200-350 |
| Elit (10+ tahun) | 750-1,000 | 900-1,300 | 1,000-1,500 | 300-500 |
Rentang TSS mingguan memperhitungkan perbedaan individu dalam kapasitas kerja, riwayat pelatihan, dan kemampuan pemulihan.
Target CTL berdasarkan Jarak Balapan
| Jarak Balapan | CTL Minimum | CTL Kompetitif | CTL Elit |
|---|---|---|---|
| 5K | 30-40 | 50-70 | 80-100+ |
| 10K | 40-50 | 60-80 | 90-110+ |
| Half Marathon | 50-60 | 70-90 | 100-120+ |
| Maraton | 60-75 | 85-110 | 120-150+ |
| Ultra (50K+) | 70-90 | 100-130 | 140-180+ |
CTL yang lebih tinggi memberikan daya tahan dan ketangguhan spesifik balapan yang lebih besar. Namun, peningkatan CTL yang cepat berisiko cedera—batasi pertumbuhan CTL maksimum 5-8 poin per minggu.
Periodisasi TSS melalui Siklus Pelatihan
Untuk contoh pembangunan maraton selama 16 minggu (pelari tingkat menengah):
| Minggu | Fase | TSS Mingguan | Target CTL | Fokus Utama |
|---|---|---|---|---|
| 1-4 | Pembangunan Dasar | 350-450 | 50 → 58 | Volume aerobik, penekanan Zona 2 |
| 5-8 | Pembangunan Awal | 450-550 | 58 → 68 | Tambahkan latihan tempo, pertahankan volume |
| 9-12 | Puncak Pembangunan | 550-650 | 68 → 78 | Latihan spesifik balapan, lari jarak jauh |
| 13-14 | Puncak | 600-700 | 78 → 82 | Beban maksimum, latihan pada pace target |
| 15 | Taper 1 | 400-450 | 82 → 80 | Pertahankan intensitas, kurangi volume |
| 16 | Taper 2 | 200-250 | 80 → 75 | Minggu balapan - prioritas pada kesegaran |
Pelajari lebih lanjut tentang menyusun fase pelatihan dalam panduan periodisasi maraton kami.
Target TSS Mingguan
Cara Anda mendistribusikan TSS sepanjang minggu sama pentingnya dengan total TSS mingguan. Distribusi yang tepat akan menyeimbangkan stimulus pelatihan dengan pemulihan yang memadai.
Pola Distribusi TSS
Pola 1: Hari Kerja/Akhir Pekan Tradisional
| Hari | Latihan | TSS Harian | % Mingguan |
|---|---|---|---|
| Senin | Istirahat atau lari pemulihan | 0-30 | 0-5% |
| Selasa | Lari moderat | 60-80 | 12-15% |
| Rabu | Latihan (interval/tempo) | 90-120 | 18-22% |
| Kamis | Lari santai | 50-70 | 10-13% |
| Jumat | Lari santai atau istirahat | 40-60 | 8-11% |
| Sabtu | Lari jarak jauh | 150-200 | 28-35% |
| Minggu | Lari moderat | 70-90 | 13-17% |
| Total | 460-650 | 100% |
Pola 2: Minggu dengan Dua Latihan Utama
| Hari | Latihan | TSS Harian | % Mingguan |
|---|---|---|---|
| Senin | Istirahat | 0 | 0% |
| Selasa | Latihan 1 (interval VO2max) | 100-130 | 18-23% |
| Rabu | Lari santai | 50-70 | 9-12% |
| Kamis | Lari moderat | 70-90 | 12-16% |
| Jumat | Latihan 2 (tempo/ambang batas) | 90-120 | 16-21% |
| Sabtu | Lari santai atau istirahat | 40-60 | 7-10% |
| Minggu | Lari jarak jauh | 150-190 | 27-33% |
| Total | 500-660 | 100% |
Panduan Ramping TSS
Overload progresif membutuhkan peningkatan TSS yang stabil, tetapi pertumbuhan yang terlalu cepat berisiko menyebabkan cedera dan pelatihan berlebih:
- Peningkatan mingguan maksimum: 5-10% kenaikan pada TSS mingguan
- Peningkatan CTL maksimum: 5-8 poin CTL per minggu
- Minggu pemulihan: Setiap 3-4 minggu, kurangi TSS sebesar 30-50%
- Cedera/sakit: Setelah jeda, kembali pada 50% TSS sebelumnya, tambahkan 10% per minggu
TSS Minggu Pemulihan
Minggu pemulihan yang dijadwalkan mencegah pelatihan berlebih dan memungkinkan terjadinya adaptasi:
- Frekuensi: Setiap 3-4 minggu
- Pengurangan TSS: 30-50% dari minggu sebelumnya
- Pemeliharaan intensitas: Tetap lakukan beberapa latihan berkualitas tetapi kurangi volume secara signifikan
- Dampak CTL: Penurunan CTL minimal (1-3 poin) tetapi penurunan ATL yang signifikan (10-20 poin)
- Peningkatan TSB: TSB harus naik ke +5 hingga +15 selama minggu pemulihan
Distribusi TSS & Intensitas
Tidak semua TSS diciptakan sama. Distribusi intensitas akumulasi TSS Anda berdampak signifikan pada adaptasi dan hasil pelatihan.
Distribusi TSS 80/20
Aturan pelatihan 80/20 menyarankan 80% pelatihan harus santai (Zona 1-2), 20% moderat hingga berat (Zona 3-5). Distribusi TSS harus mencerminkan hal ini:
| Intensitas | % dari TSS Mingguan | Rentang TSS (500 mingguan) | Zona Pelatihan |
|---|---|---|---|
| Santai/Aerobik | 75-85% | 375-425 | Zona 1-2 (IF 0,50-0,85) |
| Moderat/Berat | 15-25% | 75-125 | Zona 3-5 (IF 0,85-1,20) |
Menghitung Distribusi Intensitas
Lacak TSS berdasarkan zona untuk memastikan distribusi yang tepat:
Contoh Minggu (Target: 500 TSS mingguan, pembagian 80/20):
- Senin: Istirahat (0 TSS)
- Selasa: 16 km santai, IF 0,75 → 85 TSS (Zona 2)
- Rabu: 13 km dengan 6 × 4 mnt pada VO2max → total 95 TSS
- Pemanasan/Pendinginan: 55 TSS (Zona 2)
- Interval: 40 TSS (Zona 5)
- Kamis: 10 km santai, IF 0,75 → 55 TSS (Zona 2)
- Jumat: 13 km tempo, IF 0,92 → total 110 TSS
- Pemanasan/Pendinginan: 40 TSS (Zona 2)
- Tempo: 70 TSS (Zona 3-4)
- Sabtu: Istirahat (0 TSS)
- Minggu: 26 km lari jarak jauh, IF 0,78 → 155 TSS (Zona 2)
Total Mingguan:
- Total TSS: 500
- TSS Zona 1-2: 390 (78%)
- TSS Zona 3-5: 110 (22%)
- Distribusi: 78/22 ✓ Masuk dalam panduan 80/20
Distribusi TSS Pelatihan Terpolarisasi (Polarized Training)
Pelatihan terpolarisasi melangkah lebih jauh dari 80/20: ~85% santai, minimal Zona 3, ~15% sangat berat (Zona 5):
| Pita Intensitas | % dari TSS Mingguan | Zona Pelatihan | Fokus |
|---|---|---|---|
| Santai | 80-90% | Zona 1-2 | Pengembangan dasar aerobik |
| Moderat (minimalisir) | 0-5% | Zona 3 | Batasi pelatihan "zona abu-abu" |
| Berat | 10-20% | Zona 4-5 | Latihan ambang batas dan VO2max |
Distribusi terpolarisasi sering kali memberikan hasil yang lebih baik daripada pendekatan piramidal tradisional atau pelatihan yang berfokus pada ambang batas, terutama untuk ajang daya tahan.
Menggunakan TSS untuk Manajemen Pelatihan
TSS berubah dari data yang menarik menjadi panduan yang dapat ditindaklanjuti ketika diterapkan pada keputusan pelatihan.
Merencanakan TSS Mingguan
- Tentukan garis dasar: Lacak 2-3 minggu pelatihan saat ini untuk menentukan TSS mingguan yang berkelanjutan
- Tetapkan target CTL: Tentukan target CTL untuk balapan tujuan Anda (lihat tabel di atas)
- Hitung TSS yang diperlukan: Hitung mundur dari target CTL untuk menentukan TSS mingguan yang dibutuhkan
- Rencanakan laju ramp: Tingkatkan TSS mingguan maksimal 5-10% per minggu
- Jadwalkan pemulihan: Setiap 3-4 minggu, kurangi TSS sebesar 30-50%
Contoh: Membangun dari CTL 50 ke CTL 85 untuk maraton
- CTL Saat Ini: 50 (TSS mingguan saat ini ~350)
- Target CTL: 85 (membutuhkan TSS mingguan ~595)
- Waktu yang Tersedia: 16 minggu
- Peningkatan CTL yang Dibutuhkan: 35 poin
- Laju Berkelanjutan: ~2,2 poin CTL per minggu
- Progresi TSS Mingguan: 350 → 385 → 420 → 455 → 490 → 525 → 560 → 595
- Dengan mempertimbangkan minggu pemulihan: Mencapai target CTL dengan menyisakan waktu untuk taper
Menggunakan TSB untuk Menentukan Waktu Latihan
TSB memprediksi kesiapan untuk pelatihan berat atau balapan:
| Rentang TSB | Kesiapan | Pelatihan yang Direkomendasikan |
|---|---|---|
| < -30 | Kelelahan parah | Hanya lari santai saja, kemungkinan pelatihan berlebih |
| -30 hingga -15 | Lelah tetapi produktif | Lanjutkan pelatihan sesuai jadwal, pantau kelelahan |
| -15 hingga -5 | Kondisi pelatihan optimal | Latihan kunci, pelatihan berat, overload progresif |
| -5 hingga +5 | Seimbang | Pelatihan moderat, bagus untuk latihan tempo/ambang batas |
| +5 hingga +15 | Segar | Latihan kualitas tinggi, balapan uji coba (tune-up), tapering |
| +15 hingga +25 | Sangat segar | Hari balapan, performa puncak |
| > +25 | Terlalu segar | Taper diperpanjang, kemungkinan kehilangan kebugaran—lanjutkan pelatihan |
Aplikasi praktis:
- Jadwalkan latihan kunci saat TSB berada di -5 hingga +5
- Jika TSB turun di bawah -20, pertimbangkan tambahan hari istirahat
- Targetkan TSB +15 hingga +25 untuk balapan tujuan
- Jika TSB melebihi +25 di tengah musim, tingkatkan beban pelatihan
Manajemen Taper dengan TSS
Metrik TSS mengoptimalkan taper: mempertahankan kebugaran (CTL) sambil menghilangkan kelelahan (ATL) untuk mencapai performa puncak (TSB).
Contoh Taper Maraton 2 Minggu:
| Minggu | TSS Mingguan | Pengurangan TSS | Proyeksi CTL | Proyeksi ATL | Proyeksi TSB |
|---|---|---|---|---|---|
| Puncak (Minggu -2) | 630 | - | 84 | 88 | -4 |
| Taper 1 (Minggu -1) | 420 | -33% | 82 | 58 | +24 |
| Minggu Balapan | 220 | -48% | 77 | 30 | +47 |
| Hari Balapan | ~300 | (balapan) | - | - | Performa puncak |
CTL hanya turun 7 poin (8%) sementara ATL turun drastis 58 poin (66%), menciptakan kesegaran hari balapan yang optimal.
Pelajari lebih lanjut tentang strategi taper dalam panduan periodisasi kami.
Kesalahan Umum TSS
1. Terobsesi Mengejar Angka TSS
Masalah: Menganggap TSS sebagai skor yang harus dimaksimalkan, bukannya alat bantu manajemen.
Mengapa itu salah: TSS yang lebih banyak tidak selalu lebih baik. TSS yang berlebihan tanpa pemulihan yang memadai menyebabkan pelatihan berlebih, cedera, dan penurunan performa.
Solusi: Gunakan TSS untuk memastikan stimulus yang memadai sambil tetap menghormati kebutuhan pemulihan. Kualitas lebih penting daripada kuantitas.
2. Mengabaikan Distribusi Intensitas
Masalah: Mencapai target TSS mingguan dengan terlalu banyak pelatihan "zona abu-abu" (Zona 3).
Mengapa itu salah: 500 TSS mingguan dari sebagian besar pekerjaan Zona 3 memberikan hasil yang lebih buruk daripada 500 TSS dengan distribusi 80/20 yang tepat. Anda mengumpulkan kelelahan tanpa stimulus pelatihan yang cukup keras atau cukup santai.
Solusi: Lacak TSS berdasarkan zona. Pastikan 75-85% berasal dari lari santai, sedangkan latihan berat benar-benar berat (Zona 4-5).
3. Ramping CTL yang Terlalu Cepat
Masalah: Meningkatkan CTL sebesar 10+ poin per minggu untuk "mengejar" kebugaran.
Mengapa itu salah: Adaptasi jaringan ikat tertinggal di belakang adaptasi kardiovaskular. Peningkatan TSS yang cepat menyebabkan cedera bahkan jika Anda merasa siap secara aerobik untuk beban tersebut.
Solusi: Batasi peningkatan CTL maksimal 5-8 poin per minggu. Sertakan minggu pemulihan setiap 3-4 minggu.
4. Mengabaikan Respons Individu
Masalah: Mengikuti panduan TSS generik tanpa menyesuaikan dengan kapasitas pemulihan individu.
Mengapa itu salah: Pemulihan bervariasi berdasarkan usia, riwayat pelatihan, kualitas tidur, stres, dan genetika. Minggu dengan 500 TSS mungkin sempurna untuk satu pelari dan sangat berat bagi pelari lain dengan tingkat kemampuan yang sama.
Solusi: Gunakan panduan TSS sebagai titik awal. Pantau performa, tidur, motivasi, dan denyut jantung saat istirahat. Sesuaikan target TSS berdasarkan respons individu.
5. Terlalu Menghargai Estimasi TSS Eksternal
Masalah: Mengandalkan estimasi TSS dari smartwatch tanpa memahami metode perhitungannya.
Mengapa itu salah: Banyak jam tangan menggunakan algoritme berpemilik yang tidak sejalan dengan metodologi TSS standar. Beberapa memberikan estimasi yang terlalu tinggi, yang lain terlalu rendah. Perhitungan yang tidak konsisten membuat pelacakan tren tidak dapat diandalkan.
Solusi: Gunakan metode perhitungan yang konsisten berdasarkan CRS atau pace ambang batas. Kalkulator rTSS kami menggunakan metodologi tervalidasi untuk hasil yang akurat dan konsisten.
6. Membandingkan TSS Antar Pelari
Masalah: Mengasumsikan TSS yang sama berarti stimulus pelatihan yang sama untuk pelari yang berbeda.
Mengapa itu salah: TSS bersifat relatif terhadap ambang batas individu. Latihan 100 TSS untuk pelari elit (misalnya, 60 menit pada pace ambang batas 3:25/km) sangat berbeda dengan 100 TSS untuk pelari rekreasi (60 menit pada pace ambang batas 5:35/km).
Solusi: Gunakan TSS hanya sebagai perbandingan diri sendiri dari waktu ke waktu. Jangan pernah membandingkan nilai TSS absolut antar atlet.
7. Mengabaikan Stres Non-Lari
Masalah: Mengelola TSS dengan sempurna tetapi mengabaikan stres hidup, tuntutan pekerjaan, dan faktor non-lari lainnya.
Mengapa itu salah: Total stres (bukan hanya stres pelatihan) menentukan kebutuhan pemulihan dan performa. Stres hidup yang tinggi + TSS yang tinggi = pelatihan berlebih.
Solusi: Kurangi target TSS selama periode kehidupan yang penuh stres. Pantau HRV, kualitas tidur, dan kelelahan subjektif. Sesuaikan pelatihan berdasarkan total beban stres, bukan hanya TSS.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa TSS yang baik untuk lari jarak jauh?
TSS lari jarak jauh bervariasi berdasarkan durasi dan pace. Lari jarak jauh pelatihan maraton yang khas (26-32 km pada pace santai, IF 0,75-0,80) menghasilkan 150-250 TSS. Lari yang sangat jauh (32+ km) atau lari jarak jauh yang lebih cepat dapat mencapai 250-350 TSS. Lari jarak jauh harus mewakili 25-35% dari TSS mingguan di sebagian besar rencana pelatihan.
Berapa banyak TSS yang dianggap terlalu banyak dalam satu kali latihan?
TSS latihan tunggal di atas 300 membutuhkan pemulihan 2-3 hari; di atas 450 membutuhkan 4-7 hari. Sebagian besar latihan pelatihan harus berkisar antara 80-200 TSS. Cadangkan latihan 300+ TSS untuk lari jarak jauh utama, balapan, atau pelatihan fase puncak tertentu. Lebih dari satu latihan 300+ TSS per minggu berisiko menyebabkan kelelahan berlebih bagi kebanyakan pelari.
Dapatkah saya menghitung TSS untuk lari di treadmill?
Ya, perhitungan TSS bekerja secara identik untuk lari di treadmill menggunakan data pace. Namun, treadmill harus diatur pada inklinasi 1% untuk menyesuaikan upaya dengan lari luar ruangan. Jika membandingkan TSS treadmill dan luar ruangan, pastikan konsistensi—jangan berganti-ganti metode karena mekanika lari sedikit berbeda.
Haruskah saya menghitung latihan silang (cross-training) dalam TSS mingguan saya?
Demi spesifisitas, hitunglah TSS lari secara terpisah dari latihan silang. Bersepeda dan aktivitas lainnya menciptakan stres pelatihan tetapi adaptasinya berbeda. Jika Anda melacak total beban pelatihan di semua olahraga, gunakan perhitungan TSS terpisah untuk masing-masing olahraga. Kebanyakan pelari lebih mendapatkan manfaat dari melacak TSS lari secara eksklusif.
Bagaimana cara mengatur CRS saya untuk perhitungan rTSS yang akurat?
Lakukan tes CRS yang tepat: uji waktu upaya maksimum 3 menit dan 7 menit dengan pemulihan 30 menit di antaranya. Hitung CRS = (D7 - D3) / 4. Lakukan tes ulang setiap 6-8 minggu seiring peningkatan kebugaran. Alternatifnya, gunakan pace uji waktu 30 menit atau pace balapan 10K + 10-15 detik per mil. CRS yang akurat sangat penting untuk data TSS yang bermakna. Lihat kalkulator CRS kami untuk protokol pengujian mendalam.
Berapa TSB yang harus saya targetkan untuk balapan tujuan?
Targetkan TSB +15 hingga +25 untuk balapan prioritas A. Untuk balapan B (tune-up), TSB +5 hingga +15 adalah tepat. Balapan C (lari pelatihan) dapat dilakukan pada TSB -5 hingga +5. TSB yang lebih tinggi (kesegaran) meningkatkan performa tetapi membutuhkan taper yang lebih lama. Seimbangkan pentingnya balapan dengan kontinuitas pelatihan saat menetapkan target TSB.
Seberapa cepat CTL menurun selama cedera?
CTL menurun sekitar 1 poin per hari istirahat total, atau 7 poin per minggu. Namun, kebugaran fisiologis menurun lebih lambat daripada yang disarankan CTL. Setelah 2 minggu istirahat (penurunan CTL ~14 poin), kehilangan kebugaran aktual hanya 5-10%. Latihan silang dapat mempertahankan 50-70% kebugaran lari, memperlambat penurunan CTL. Saat kembali dari cedera, bangun kembali CTL secara bertahap maksimal 3-5 poin per minggu.
Apakah TSS akurat untuk lari trail dan di perbukitan?
TSS berbasis pace kurang akurat di jalur trail dan perbukitan yang signifikan karena pace tidak mencerminkan upaya. Untuk lari trail, hrTSS berbasis denyut jantung memberikan akurasi yang lebih baik. Alternatifnya, gunakan TSS berbasis daya jika Anda memiliki power meter lari—daya memperhitungkan kemiringan dan medan. Untuk lari di jalan yang berbukit dengan GPS, TSS berbasis pace tetap cukup akurat selama durasi latihan penuh.
Dapatkah saya menggunakan TSS dengan zona denyut jantung, bukannya pace?
Ya, hrTSS menggunakan denyut jantung relatif terhadap LTHR (lactate threshold heart rate) dan bukannya pace relatif terhadap CRS. Rumusnya dihitung sebagai: hrTSS = (Durasi × IF²) / 36, di mana IF = rata-rata HR / LTHR. hrTSS berfungsi dengan baik untuk medan di mana pace tidak dapat diandalkan. Namun, drift jantung dapat menaikkan hrTSS pada lari jarak jauh—rTSS berbasis pace lebih konsisten untuk lintasan yang datar dan terukur.
Apa hubungan antara TSS dan jarak tempuh (mileage) mingguan?
TSS dan jarak tempuh berkorelasi tetapi tidak dapat dipertukarkan. Minggu dengan 80 km pada pace santai (IF 0,75) menghasilkan ~450 TSS. 80 km yang sama dengan latihan intensif mungkin menghasilkan 550-650 TSS. TSS memperhitungkan intensitas yang terlewatkan oleh jarak tempuh saja. Dua pelari dengan jarak tempuh mingguan yang identik dapat memiliki tingkat TSS dan kelelahan yang sangat berbeda tergantung pada distribusi intensitas. Gunakan kedua metrik tersebut bersama-sama untuk mendapatkan gambaran lengkap.
Referensi Ilmiah
Metodologi dan konsep Training Stress Score yang disajikan dalam panduan ini didasarkan pada penelitian tinjauan sejawat (peer-reviewed) dalam fisiologi olahraga dan ilmu keolahragaan:
Makalah Penelitian Utama
- Kuantifikasi Beban Pelatihan:Banister EW et al. "Modeling human performance in running." J Appl Physiol. 1975 - Model impuls-respons fundamental untuk beban pelatihan
- Daya/Kecepatan Kritis:Jones AM, Doust JH. "A 1% treadmill grade most accurately reflects the energetic cost of outdoor running." J Sports Sci. 1996 - Validasi pengujian kecepatan kritis
- Distribusi Intensitas Pelatihan:Seiler S. "What is best practice for training intensity and duration distribution in endurance athletes?" Int J Sports Physiol Perform. 2010 - Prinsip pelatihan 80/20
- Beban Pelatihan Kronis:Gabbett TJ. "The training-injury prevention paradox." Br J Sports Med. 2016 - Hubungan beban pelatihan dan risiko cedera
- Periodisasi:Issurin VB. "New horizons for the methodology and physiology of training periodization." Sports Med. 2010 - Pendekatan periodisasi modern
